Tampilkan postingan dengan label loa. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label loa. Tampilkan semua postingan

Sabtu, Mei 02, 2009

“Mazhab” Walt Disney pada Umat Islam

Umat Islam, kini sudah tidak lagi mampu membedakan kehidupan yang nyata dan simulasi. Kita sudah menjadi pengikut “Mazhab Walt Disney”

Oleh: Ja’far Karim *

Ada film dokumenter dari Amerika tentang sekelompok orang yang menangani masalah budaya konsumtif. Film “What Would Jesus Buy?” (Apa Yang Akan Dibeli Oleh Yesus?). Cerita berpusat pada perjalanan seorang yang berperan sebagai pendeta fiktif dari “Gereja Berhenti Berbelanja”. Bersama istrinya dan kor sukarelawan, mereka berkeliling Amerika, menyerukan masyarakat agar tidak mengumbar belanja dan tidak terjerat hutang melalui kartu-kartu kredit.

Terkadang aksi mereka di pusat-pusat perbelajanaan selama “musim belanja” menjelang hari Natal, berakhir ketika “Pendeta Billy” ditahan oleh polisi. Masyarakat Amerika beruntung memiliki orang seperti ini, tetapi siapa yang maju untuk mengingatkan komunitas Muslim tentang bahaya konsumerisme seperti itu?

***

Seputuh tahun ini, budaya baca di kalangan Muslim meningkat tajam. Jutaan buku dan ribuan toko, merupakan indikasi peningkatan budaya membaca di Indonesia. Melihat peluang pasar yang meningkat, para penerbit membanjiri pasar dengan judul-judul buku yang baru. Ada yang bersifat menghibur, ada yang mengekor kepada pemahaman yang diambil dari non-Muslim, bahkan ada buku Islam yang isinya penghujatan langsung terhadap Islam.

Buku cerita pendek dan fiksi dengan cap seolah-olah “islami” berjibun banyaknya. Karena ingin dianggap “islami”, para penerbit memaksakan buku yang sesungguhnya lebih layak disebut budaya pop ketimbang Islam itu sendiri.

“Hadis for Teenagers”, “Semakin Gaul Dengan Hadis” atau “Tahzan for Broken Hearted Muslimah” adalah judul-judul yang sering disebut lebih gaul.

Namun yang jelas, buku-buku yang meminta disebut “islami” dan sebagai sumber hiburan merupakan makhluk yang baru.

Mengekor?

Dulu, sebelum gerakan ghawazul-fikri ditinggalkan untuk mengejar kebahagiaan materialistis, banyak Muslim masih curiga dan menolak karya-karya para “orientalis”. Sekarang mereka sudah mulai belajar sejarah dan prinsip-prinsip agama Islam dari mereka. Buku-buku para orientalis yang “ramah terhadap Islam” mulai memenuhi rak-rak buku, seperti karya Karen Armstrong, yang menulis tentang “Sejarah Islam Singkat”.

Kalau karya-karya para akademisi non-Muslim masih terasa berat, masih ada konsep-konsep yang lebih mudah dicerna yang ditawarkan oleh para ahli membual dari Barat, seperti film dan buku yang tenar, yaitu “The Secret”. Sebagian besar penggemarnya menerima ide sentralnya secara tidak kritis, menutup mata terhadap hal yang bisa bentrok dengan pemahaman agama. Ada beberapa Muslim sudah menulis buku yang didasarkan “Law of Attraction”, atau hukum tarik-menarik, yang menjadi konsep utama dari “The Secret”. Tidak banyak yang tahu bahwa film sukses ini adalah produksi yang dimotori oleh Esther Hicks, seorang perempuan yang mengklaim kesurupan sekelompok entitas yang menamakan dirinya sebagai “Ibrahim”.

Ada buku “Al-Qur’an, The Ultimate Secret” karya Astrid Darmawan, yang “hijrah” dari foto model ke sufisme. Juga ada “Qur’anic Law of Attraction: Meraih Harapan Dengan Energi Ilahi” oleh Rusdin Rauf. Sampul kedua buku ini dimiripkan dengan sampul dan bentuk khas dari buku laris “The Secret”. Sementara belum menemukan tanggapan yang tuntas dari segi Islam, sudah ada karya yang kritis dari pandangan Kristen, yaitu buku “There is More to the Secret”. Kesimpulannya, hukum alam yang dipaparkan dalam “The Secret” digunakan untuk mengejar tujuan hedonis dan untuk “memajukan budaya konsumerisme”.

Belum sempat membahas “The Secret”, muncul buku-buku bertema Quantum. Setidaknya, sampai hari ini, sudah terhitung ada 15 judul buku bertajuk Quantum. Ada Quantum Teaching, Quantum Doa, Quantum Ikhlas, Quantum Shalat, dll.

Entah apa para penerbit atau penulis menganggap bahwa “quantum” berarti “cepat”, tetapi upaya mereka sesungguhnya serba salah. “Quantum” sebenarnya hanya suatu ukuran (seperti “sejumlah” atau “sebidang”), dan konsep-konsep Islam seperti di atas bukan sesuatu yang enteng atau pantas dikemas sebagai semacam “spiritualitas instan”. Sepertinya yang diharapkan adalah “Quantum Omzet”. Upaya tersebut, lebih tepat sebagai usaha memperlancar urusan bisnis.

Tentu saja masalahnya di sini adalah Haq dan Baatil dicampuradukkan. Judul-judul di atas bukan karya dari kalangan mereka yang dianggap liberal, tetapi buku-buku yang dikemas sedemikian rupa untuk pangsa pasar tertentu, yaitu para Muslim “mainstream” dari kelas tengah.

Wajah Bible

Sudah terjadi sebagai peristiwa dunia, seperti non-Muslim yang membuat kartun dan film pendek yang menghujat Islam, yang dilawan begitu keras oleh komunitas Muslim. Juga terjadi reaksi keras terhadap sekte-sekte yang menyimpang dari ajaran Islam di Indonesia. Namun ada penghujatan yang terjadi secara intern di komunitas Muslim yang tidak dikritik, malah berkembang dalam berbagai bentuk. Yang dimaksud adalah ayat-ayat Al-Qur’an atau kalamatullah yang digabung dengan gambar-gambar kartun dalam bentuk komik.

Hal ini tidak dilakukan sambil lalu, tetapi dengan judul khusus, seperti “Juz ‘Amma Bergambar untuk Anak”, “Juz Amma Lengkap Bergambar”, dan beberapa versi lainnya. Sesuai judul, ayat-ayat suci dihiasi dengan gambar-gambar, yang dipaksakan untuk “menerangkan” arti dari ayat. Terkadang ini dilakukan dengan menampilkan berbagai penggambaran tentang dosa dan maksiat. Sebagian besar gambar ini tidak ada hubungan dengan ayat dan merupakan hiasan belaka.

Barangkali masih perlu diingatkan bahwa membuat gambar makhluk hidup merupakan dosa dalam Islam. Meski begitu, betapa beraninya kalau gambar yang dibuat dicetak secara lux bersama ayat-ayat Al-Qur’an, dengan tujuan meraih sedikit keuntungan di dunia yang fana ini! Kira-kira apa lagi yang dapat dikatakan untuk mengingatkan orang-orang yang masih memiliki keimanan kepada Allah SWT di dalam hatinya?

Sedemikian kasarnya penggambaran ini, sampai-sampai ada deretan gambar yang menampilkan progresi usia dari muda sampai tua. Ini diawali dengan gambar sperma [!], yang timpang dengan gambar bayi, gambar anak, dan seterusnya, di halaman ayat-ayat dari Surat At-Tariq. Jenis buku seperti ini sudah mengikuti jejak umat Kristiani, yang sudah lama mencetak versi Bible yang bergambar untuk anak-anak.

Kalau masih belum “puas”, ada seri buku lux yang berjudul “Quranku Sahabatku”. Sampulnya dihiasi dengan adegan-adegan anak-anak yang bermain, dan sama sekali tidak menampilkan ajaran atau budaya yang diambil dari Islam maupun Al-Qur’an.

Yang terahkir adalah judul yang membuat jiwa dan raga seorang Muslim menggetar, yaitu “Komik-Qu Adalah Komik Al-Quran!” Di sampulnya ada banyak gambar yang membingungkan, seperti orang yang duduk dan menonton televisi, anak yang melompati tali, murid yang duduk dengan wajah bosan, anak yang menatap Al-Qur’an sembari menggaruk kepala seperti orang bingung, dan kartun Muslimah yang berdiri di balik gunung seolah akan terbang ke langit.

Konsumerisme “Islami”

Sayangnya berkembangan pasar buku-buku Islam terlihat lebih didorong oleh keinginan untuk mencetak laba dan untuk menaikkan citra penulis ke tingkat selebritis. Menurut Patrick Haenni dan Husam Tammam, dalam artikel mereka berjudul “Islam yang Ber-AC di Mesir” (Le Monde Diplomatique, Sept. 2003), “Nilai dari tren ini jauh dari revolusioner. Alih-alih ia merupakan nilai fana dan ketidakpuasan yang penuh keputusasaan: yaitu hedonisme, kenyamanan individu dan konsumsi."

Mereka menjelaskan yang terjadi di Mesir. Di mana hijab tak lagi menunjukkan obsesi dengan identitas sebagai Muslimah, tetapi merupakan ekspresi kenyataan dari globalisasi, reformasi pasar dan konsumerisme. Ia malah sudah diambil alih oleh industri busana. Ini sudah tampak jelas dalam sebagian dagangan yang dikemas untuk pasar konsumen Islam di Indonesia. Ada perjalanan haji bersama para selebritis.

Kita sudah banyak yang tidak lagi mampu membedakan kehidupan yang nyata dari simulasi, animasi, dan semua yang virtual. Kita sering tak sadar bahwa sudah menjadi pengikut “Mazhab Walt Disney”.

* Penulis terlahir sebagai orang Amerika. Kini menjadi muslim dan menjadi warga Indonesia.

Sumber:

* Hidayatullah

Kamis, Juli 03, 2008

Ada "Dementor" beneran nich! Hiii....

Buat para penggemar serial Harry Potter pasti tau tentang Dementor. Digambarkan oleh tokoh Lupin bahwa Dementor adalah...

Dementors are among the foulest creatures that walk this earth. They infest the darkest, filthiest places, they glory in decay and despair, they drain peace, hope, and happiness out of the air around them... Get too near a Dementor and every good feeling, every happy memory will be sucked out of you. If it can, the Dementor will feed on you long enough to reduce you to something like itself...soul- less and evil. You will be left with nothing but the worst experiences of your life.
[harry potter wikia]

Atau dengan kata lain, Dementor punya kemampuan menyedot semangat hidup manusia sampe bisa jadi putus asa.

Belakangan ini, gue menemukan bahwa ternyata Dementor bukan cuma ada dalam fiksi. Repotnya, Dementor di dunia nyata lebih sulit dikenali. Kalo di cerita Harry Potter Dementor muncul dalam sosok yang mengerikan, berkulit kelabu dengan jari-jari kurus seperti kerangka, di dunia nyata mereka tampil seperti orang biasa. Mereka bisa aja duduk di sebelah lo di kantin, berdiri di belakang lo waktu ngantri karcis busway, atau yang lebih serem lagi: duduk di balik pintu bertuliskan "BOSS".

Persis seperti dalam cerita Harry Potter, berdekatan dengan para Dementor bisa bikin lo tiba-tiba merasa suram, putus asa, hidup tiada guna, negara serasa mau bangkrut, kiamat seakan minggu depan, kerja kayak nggak ada gunanya, dsb dsb. Pada stadium lanjutan, infeksi Dementor bisa mengakibatkan timbulnya rasa curiga kalo orang lain berhasil, sirik kalo liat orang lain senang, bahkan terasa dorongan ingin nyabot sukses orang. Dengan kata lain, Dementor itu menular, dan dampak penularannya sangat merugikan. Hati-hati!

Kenapa kita sebaiknya jangan sampe ketularan jadi Dementor?

Karena nggak ada orang yang seneng denger keluhan, termasuk diri kita sendiri. Semakin banyak lo mengeluh, semakin lo benci sama diri sendiri. Semakin lo benci sama diri sendiri, lo semakin yakin bahwa diri lo nggak berguna. Semakin lo yakin diri lo nggak berguna, semakin tertutup jalan untuk hidup lebih baik.

Kenali Dementor sejak dini!

Penampilan boleh nipu, tapi Dementor sejati nggak pernah bisa menyembunyikan sifat aslinya. Ciri-ciri yang paling gampang dikenali adalah:
  1. Frekuensi curhat yang sangat tinggi, dengan topik masalah pribadi yang seolah penting banget untuk diketahui semua orang, dan nggak ada solusinya.

    Yang paling mengganggu dari kebiasaan Dementor yang satu ini adalah, mereka bisa bikin sebuah acara ngumpul yang tadinya 'seru' dan 'hore' jadi ngedrop dengan curhatan-curhatannya.

    Contoh:
    "Eh si X baru beli HP lho!" kata seseorang
    "Oh ya, apa merknya?" sambut yang lain antusias
    "Sony Ericsson, kalo nggak salah"
    "SE?! Wah siap-siap aja tuh, kan batrenya cepet bocor. Nih gue pake SE baru sebentar udah rese gini batrenya... blablabla... mana harga jualnya cepet jatuh... blablabla... mau beli lagi nggak ada duit... blablabla... apa-apa s eka rang mahal... blablabla... gaji nggak naik-naik..."

    Pokoknya begitu si Dementor angkat bicara, semua yang hadir tiba-tiba merasa suntuk, lesu, nggak bergairah. Atau dengan kata lain, ya itu tadi: ngedrop .

  2. Dementor selalu mampu melihat sisi jelek dari segala sesuatu, nggak peduli sebagus apapun keadaannya.

    Kalo mau dibilang sebagai 'bakat', memang kemampuan Dementor yang satu ini nggak dimiliki kebanyakan orang. Saat semua orang terkagum-kagum atas kehebatan sesuatu, para Dementor dengan kejelian yang luar biasa selalu mampu menemukan celahnya.

    Contoh:
    "Gue kemarin ketemu sama suaminya Ibu X. Ya ampun, orangnya ganteng s eka li ya... udah gitu keliatannya baik, lagi."
    "Iya, gue juga pernah ketemu. Dia juga setia, lho..."
    "Jangan lupa, pinter pulak. Kalo nggak salah dia lulusan terbaik waktu kuliah dulu."
    "Pantesan karirnya juga bagus, ya. Sekarang posisinya udah lumayan tinggi, kan ?"
    "...kalo tidur pasti ngorok kaya babi," kata sang Dementor merusak suasana.

  3. Dementor senang membandingkan diri dengan lawan bicara, sedemikian rupa sehingga dirinya terdengar jauh lebih apes, dan akhirnya lawan bicara menjadi sungkan.

    Contoh:
    "Hai, gue denger abis pindah rumah ya?"
    "Iya nih, biasa... pinjeman dari kantor..."
    "Ih enak ya, kantornya ngasih pinjemen rumah.. gue dong masih ngontrak mulu..."
    "Oh..."
    "Mana gaji nggak naik-naik, buat bayar kontrakan aja udah ngepas, gimana mau nabung buat beli rumah?"
    "Ehm... tapi..."
    "Udah mana s eka rang BBM naik, apa-apa ikut naik, makin c eka k aja deh rasanya... Kalo elu kan enak, gaji gede, fasilitas banyak..."
    "Eh... permisi dulu ya, mau gantung diri dulu bentar boleh?"

  4. Dementor gemar mematikan semangat orang lain.

    Seperti pasukan pemadam kebakaran ngeliat api, semakin besar apinya, semakin giat upayanya untuk memadamkan.

    Contoh:
    "Gue mau coba bisnis baru nih!"
    "Bisnis apa?"
    "Jualan baju anak-anak"
    "Yahhh... hari gini jualan baju! Nggak liat tuh, di ITC yang jualan baju udah segambreng?"
    "...tapi koleksi gue unik-unik lho! Lain daripada yang lain deh!"
    "Alaaah... unik kaya apa sih, paling sebentar lagi juga pasaran. Liatin aja!"
    "Euh... gue juga berencana ngikutin perkembangan tren lho..."
    "Emangnya lu kira gampang? Gue pernah tuh, coba jualan baju kayak elu. Awalnya semangat, eh terakhirnya malah rugi. Mana barang dagangan dibawa kabur orang..."

    dst dst dst.
Kiat menghadapi Dementor.

Cara paling aman adalah: jangan dideketin. Begitu seseorang yang ada di d eka t lo menunjukkan ciri-ciri seorang Dementor, segeralah jauh-jauh. Cari alasan apa aja, bilang mau beli rokok ke Ujung Kulon kek, mau nguras sumur kek, terserah. Yang penting jangan deket-deket mer eka . Ingat, Dementor itu sangat menular!

Checklist Dementor (Apakah Anda telah terasuki Dementor??).

Sedangkan bagi kalian yang selama ini telah menjadi Dementor tapi nggak menyadarinya, coba teliti daftar berikut. Kalo kalian merasa setuju dengan 5 pernyataan atau lebih, hati-hati, kalian sedang menjelma menjadi Dementor. Segeralah minta pertolongan profesional, sebelum terlambat...
  • Sebagian besar orang lebih beruntung dari gue.
  • Nggak ada orang yang bisa hidup layak dengan gaji sekecil gue.
  • Semakin lama, kondisi perekonomian semakin buruk. Gue nggak tau bulan depan masih bisa hidup atau enggak.
  • Gue nggak tau gue ingin jadi apa?
  • Gue benci sama kantor gue, tapi kalo gue resign nanti nggak ada kantor lain yang mau nerima!
  • Naik pangkat? Jangan ah. Ntar kalo gagal gimana?
  • Tentu aja dia naik pangkat. Rajin jilat pantat, pasti.
  • Dari dulu memang gue ditakdirkan apes!
  • Gue nggak pinter, makanya nggak bisa sukses kayak orang lain...
  • Orang tua gue asal-asalan nyekolahin gue, makanya gue jadi kaya gini sekarang...
  • Gue nggak kebayang gimana caranya biar bisa hidup lebih baik...
  • Orang emang gampang kasih nasehat. Mer eka belum ngerasain susahnya hidup gue, sih.
  • Percuma gue kerja keras, toh tiap bulan gajinya cuma segitu-segitu aja.
  • Orang lain enak punya duit buat refreshing. Gue boro-boro refreshing, makan aja susah. Makanya harap maklum kalo gue stress.
  • Gue udah ketuaan untuk nyoba hal baru.
  • Kenapa sih nggak ada orang yang ngertiin gue...
  • Orang lain enak, punya orang tua kaya buat minjem duit kalo butuh. Giliran gue, yang ada emak gue nodong mulu buat beli beras.
  • Kalo ada orang baik sama gue, pasti ada maunya.
  • Boss muji gue? Pasti dia salah orang.
  • "7 Habits"-nya Steven Covey? Itu kan buatan Amerika, mana bisa berlaku di sini.
  • Luna Maya aja masih ngejomblo, apalagi gue yang jelek begini.
  • Emang dunia makin parah. Kucing aja makin hari makin kurang ajar.
Pesan bagi para Dementor...

Tema utama hidup kalian adalah: merasa diri sebagai orang paling apes sedunia.

Padahal sekarang penduduk dunia ada 6.7 miliar orang. Jadi, lo harus mengalahkan keapesannya 6.699.999.999 orang. Itu nggak gampang, lho. Apa iya lo sehebat itu?

^_^

(Ditulis oleh: Agung Mbot dari milis yang saya ikutin....)